" TNI MANUNGGAL DENGAN RAKYAT "
SATUAN BEBAS PELANGGARAN

Jumat, 28 Oktober 2011

SEJARAH SATUAN

-->

SEJARAH SINGKAT KODIM 0725/SRAGEN



I.             PENDAHULUAN



1.         Umum.           Sejarah  terbentuknya Kodim 0725/Sragen adalah merupakan pendorong jiwa, semangat dan dedikasi seluruh anggota dan warga Kodim 0725/Sragen untuk mengabdikan dirinya kepada tanah air, bangsa dan negara, juga dapat digunakan dalam membentuk  jiwa korsa (kebanggaan satuan) baik selama tugas dan sesudah Purna tugas di Kodim 0725/Sragen.

2.         Maksud dan Tujuan.

a.         Maksud.        Sejarah singkat satuan ini untuk memberikan gambaran secara umum tentang kronologis kesatuan Kodim 0725/Sragen sejak berdirinya sampai dengan  hari Jadi  serta reputasinya kepada Komando Atas dan seluruh anggota Kodim 0725/Sragen.

b.         Tujuan.          Agar dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan bahan pertimbangan Komando Atas dalam menentukan kebijaksanaan selanjutnya.

3.         Ruang lingkup dan Tata urut.    

a.            Pendahuluan.
b.            Sejarah asal usul Kodim 0725/Sragen.
c.            Terbentuknya Kesatuan Teritorial di Sragen.
d.            Terbentuknya KDM ( Komando Distrik Militer ) Sragen.
e.            Pengabdian Kodim 0725/sragen.
f.             Daftar nama-nama pejabat Komandan Kodim 0725/Sragen.
g.            Penutup.



II.       SEJARAH ASAL USUL KODIM 0725/SRAGEN



4.         Sejarah (kronologis) asal usul Kodim 0725/Sragen.

            Masa perjuangan fhisik antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1948, sebagai latar belakang pembentukan Kesatuan Kodim 0725/Sragen sebagai berikut :

a.         Dari dukungan rakyat secara mutlak terhadap Proklamasi Kemerdekaan  Republik Indonesia yang diproklamasikan  pada tanggal 17 Agustus 1945 di daerah Kabupaten Sragen (Sukowati) ditandai dengan gerakan-gerakan spontanitas rakyat dan khususnya para Pemuda untuk merebut Kantor / Instansi dan Lembaga Vital dari tangan penguasa Jepang.   Gerakan spontanitas rakyat/pemuda tersebut kurang terorganisir tetapi dapat dikendalikan oleh tokoh yang diterima sebagai pimpinan antara lain :

                 1)         Tokoh Partai  :  
                              Sdr.   Suhari  Kusumodirodjo.

                 2)         Pemuda Pamong Praja :  
                              Sdr.  Mlonjopranoto.

                 3)         Pemuda Perjuangan :  
                              -  Sdr. Panudi  Mochamad.
                              -  Sdr. Rachmad dari kepolisian.     
                                                          
b.         Setelah berdirinya kekuasaan pemerintah Republik Indonesia dari hasil perjuangan gerakan rakyat/pemuda maka untuk mempertahankan negara yang baru berdiri, dibentuklah suatu Badan Keamanan Rakyat disingkat BKR, dan Badan Pejuang yang lain sepertinya  BPRI, Angkatan Muda Sukowati, Hisbulah dan lain sebagainya.
           
c.         Pada tanggal 5 Oktober 1945 Badan Keamanan Rakyat dirubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat disingkat TKR, TRI dan yang terakhir TNI-AD.

d.         Pada tanggal 5 Nopember 1945 di Sragen dibentuk Kesatuan Yon 20 Rinif 27 Divisi IV (Panembahan Senopati), adapun pengangkatan Danyon berdasarkan pilihan secara Demokratis seperti pada suatu organisasi.   Massa yang memilih pengurus.    Maka tepilihlah Mayor Soeharto sebagai Danyon.    Dari beberapa orang bekas Perwira Peta (Syodantyo)  yang tidak terpilih kemudian meninggalkan Sragen untuk berjuang di daerah lain ialah :

1)            Sumantri Utoro.
2)            Soemarsono.
3)         Panudi Mochamad Ali, sebagai Yugeki Syodantyo menggabung dengan Polisi Militer khusus dibawah pimpinan Zulkifli Lubis kemudian Letkol Soemarto Kusumodirdjo Danrinif 27, mantan Syodantyo Panudi Mochamad Ali segera dipanggil kembali dari Jogja untuk mendampingi Komando Yon 20 di Sragen.     Pada tanggal 11 Desember 1945 Mayor Soeharto gugur bersama pengawalnya di Front Ngasinan Tuntang, selanjutnya Komando Yon 20 Rinif 27 Divisi IV dipegang oleh Mayor Panudi Mochamad Ali.
 
e.         Dalam rangka/Sejarah pengabdiannya Yon 20 Rinif 27 Divisi IV tanpa terputus mengirimkan pasukannya ke Front sebagai berikut :
           
1)         Tahun 1945 bulan Oktober Jembatan Kaligawe Semarang dalam pertempuran 5 hari.

2)         Bulan Desember 1945 dalam rangka Palagan Ambarawa gugurlah Mayor Soeharto di Front Tuntang.

3)            Tahun 1946 Genuk, Sayung dan Demak Front MMTG.
4)         Tahun 1946 s/d 1947 Markas Medan Tenggara (MMTG) di Mranggen dengan Danpur Letkol Basuno dan Wadanpur Mayor Punadi Mochamad Ali.

5)         Tahun 1947 MTTG di Karang Ayung Purwodadi.
6)            Tahun 1947 s/d 1948 PP IV F di Telawah dan Gundhi, Mayor Panudi Mochamad Ali sebagai Danpur.

f.          Disamping sebagai Yonif dengan tugas Tempur Yon 20 juga bertugas sebagai Kesatuan Teritorial untuk wilayah Sragen.

g.         Pada permulaan tahun 1948 diadakan rekontruksi dan rasionalisasi Angkatan Perang yang membagi kesatuan-kesatuan dalam mobiele dan Teritorialetraepon.    Dari Yon 20 Rinif 27 Divisi IV di ambil 1 Kompi Inti dibawah pimpinan Lettu Edy Sugardo sebagai Danki untuk digabungkan pada Yon 441 Condrobirowo dibawah pimpinan Mayor Soemardi/Mayor Darmono.

h.         Sisa pasukan Yon 20 diberi status Kesatuan Tertorial dibawah pimpinan Panudi Mochamad Ali, namun instruksi dan pedoman/petunjuk struktur dan tatakerja sebagai Komando Teritorial belum didapat, sehingga segala langkah hanya didasarkan pada inisiatif sendiri.

j.          Tanggal 15 Juni 1948 situasi politik yang semakin panas  sebagai prolog Affair Madiun memasuki kehidupan Angkatan Perang sebagai berikut :

1)         Divisi IV Panembahan Senopati dibina oleh tokoh PKI Alimin melalui Pepolitnya.

2)         Rinif 27 dengan Markas Komandonya di Sragen (sejak permulaan 1948) dibawah pimpinan Letkol Sastrolawu di bina oleh Tan Malaka (PSI).

3)         Pada tanggal 15 Juni 1948 Divisi IV mengirimkan pasukan yang cukup besar dibawah pimpinan :

                        a)         Letkol S. Soediarto             
                        b)         Mayor Slamet Riyadi          
c)         Mayor Kusmanto                 
                        d)         Mayor Purnawi                    
           


ke Sragen untuk menangkap Letkol Sastrolawu dan melucuti Rinif 27.

4)         Karena SATUAN PENGAWAL Rinif 27 tinggal sisa Yon 20 (Inti pasukan sudah diambil ke Yon 441 Condrobirowo) dan Letkol  Sastrolawu tidak ada di tempat, maka pasukan penyerbu dari Divisi IV tanpa pertempuran berhasil melucuti Yon 20 serta membawa Komandannya ialah Mayor Punadi Mochamad Ali untuk menghadap Panglima Divisi IV Kolonel Soetarto (Alm) di Lojigandrung Solo.

5)         Karena merasa diperlakukan tidak wajar maka Mayor Punadi Mochamad Ali sepulangnya dari Lojigandrung langsung menghadap Panglima Besar Sudirman di Yogjakarta untuk melapor situasi di Solo.

6)         Sepulang dari Yogjakarta Mayor Punadi Mochamad Ali jatuh sakit dan mondok di Dungus Madiun, ditawan Belanda.
                            


III.      TERBENTUKNYA KESATUAN TERITORIAL DI SRAGEN



5.         Terbentuknya Kesatuan Teritorial di Sragen.            Pada tanggal 19 Desember 1948 Clash ke II Belanda  masuk daerah-daerah pedalaman, masuk kota Sragen kira-kira tanggal 24 Desember 1948, sehingga pemerintahan Sipil maupun KDM keluar kota Sragen, waktu itu Pemerintahan Sipil maupun Militer dibagi menjadi dua :
           
a.         Sebelah selatan Bengawan Solo dipimpin oleh Bupati Mangun Negoro dan Militernya oleh Almarhum Mayor Hartadi dengan Kepala Staf Kapten Sumantri Oetoro, dengan Staf lengkap.         Pemerintahan ini disebut Pemerintahan  Militer Kabupaten (PMKB).
                
                        b.         Sedangkan untuk utara Bengawan Solo dipimpin oleh Almarhum Patih Projorahardjo  dan Militernya oleh Kapten Wuryarso.    Dalam hal ini Pemerintahan tetap satu yaitu PMKB Sragen.

c.         Pada bulan Nopember 1949 Pemerintahan Militer Kabupaten Sragen masuk kota karena penyerahan kedaulatan yang didahului dengan Cease Fire, setelah itu pemerintahan kembali aktif melaksanakan tugas pokoknya  pembinaan Teritorial dengan Komandannya tetap Mayor Hartadi (Alm) dan Kepala Stafnya Kapten Soemantri Oetoro.


IV.     TERBENTUKNYA KDM (KOMANDO DISTRIK MILITER) SRAGEN


6.         Terbentuknya KDM (Komando Distrik  Militer) Sragen sebagai berikut :

            a.         Kelahiran KDM (Komando Distrik  Militer) Sragen sebagai berikut :

1)         Kelahiran Kodim 0725/Sragen tidak dapat dipisahkan dari jiwa dan semangat Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, karena Proklamasi merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia dalam rangkaian sejarah perjuangan Nasional.     Setelah berdirinya kekuasaan dan pemerintahan Republik Indonesia maka untuk mempertahankan negara yang baru berdiri tersebut dibentuklah suatu badan yang bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR).    Pada tanggal 5 Oktober 1945 BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

2)         Pada tanggal 30 Juni 1948 berdasarkan  Surat Keputusan dari Komando Sub Teritorial Surakarta Mayor Panudi Mochamad Ali ditetapkan sebagai Perwira Distrik Militer (PDM) pada Komando Distrik Militer Kabupaten Sragen.   Dengan demikian resmilah sudah terbentuknya Komando Distrik Militer (KDM) yang kemudian menjadi Kodim 0725/Sragen dengan ditetapkan  pembentukkannya tanggal 30 Juni 1948.

7)    Sekitar pembentukan.

a)         Latar belakang peleburan tersebut, disamping melaksanakan perintah dari atasan juga dikandung maksud membentuk APARAT TERITORIAL  yang pada waktu itu belum ada, dengan tugas pembinaan teritorial dalam rangka melancarkan operasi gerilya terhadap Belanda.

b)            Pembentukan/Pemrakarsa oleh pimpinan ANGKATAN DARAT khususnya atau pemerintah.

c)            Pembentukan/peleburan dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 1948.

d)            Di daerah KDM Sragen.

e)            Keadaan saat terbentuk :
(1)          Komandan KDM Mayor Punadi Mochamad Ali.
(2)          Personel pada waktu itu belum lengkap dan belum teratur.
(3)       Organisasi juga belum sempurna menurut prosedur yang ada.
(4)       Lain-lain karena situasi dan kondisi masih dalam keadaan Revolusi maka segala sesuatu masih serba kurang.


b.            Perkembangan KDM (Komando Distrik Militer) Sragen.

1)         Unsur Pimpinan.    Masih belum memiliki kualitas yang baik, karena belum adanya pendidikan-pendidikan, ditambah adanya pertempuran Belanda.

2)         Personel.      Baik  kualitas maupun kuantitas masih banyak kekurangan.

3)         Organisasi.   Belum baik dan belum teratur.

4)         Materiil.          Serba kekurangan, baik persenjataan maupun akomudasi yang lain.

5)         Pendidikan dan latihan.    Belum dapat melaksanakan pendidikan secara khusus hanya dapat melaksanakan pendidikan/latihan secara tidak tetap.

6)         Pembinaan korsa (Esprit Corp).             Hal ini hanya dapat dilakukan  menurut situasi/kondisi dan kemampuan pada waktu itu.



V.           PENGABDIAN KODIM 0725/SRAGEN



7.         Dalam pengabdian Kodim 0725/Sragen dapat disusun sebagai berikut :

a.         Penugasan operasi 

1)         Pada waktu itu penggabdian sesuai dengan alam perjuangan melalui pembinaan Teritorial mengerahkan pemuda dan Masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung untuk aktif melawan Belanda.

2)         Pada tahun 1965 s-d 1966 sekitar peristiwa G.30.S/PKI Kodim 0725/Sragen bersama-sama pemerintah daerah dan aparat keamanan yang lain mengadakan Operasi penumpasan G.30.S/PKI diseluruh Daerah Kabupaten Sragen dengan hasil telah menangkap semua orang PKI yang berada  di daerah Kabupaten Sragen. Hasil tersebut kemudian diserahkan kepada Teperda  guna diadakan pemeriksaan/ pengusutan lebih lanjut.

3)         Dalam rangka pemulihan keamanan Timor-Timur Kodim 0725/Sragen telah mengirimkan 6 orang Bati dan 4 orang Bintara secara bergantian dari tahun 1986 sampai dengan 1989.

4)         Dalam rangka pemulihan keamanan di Ambon Maluku Kodim 0725/Sragen telah mengirimkan 1 orang Perwira BKO Dam XVII/Ptm dari tahun 2005 sampai dengan 2006.



b.         Pengamanan Pemilu, Pilpres dan Pilkada. 

1)         Dalam pelaksanaan Pemilu 1971, Kodim 0725/Sragen bersama Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman.   Namun hasil pemungutan suara dalam Pemilu 1971 Golkar mengalami kekalahan ( 27 % ), sedangkan masyarakat dipihak Parpol (PDI) dikarenakan daerah Kabupaten Sragen adalah bekas basis PNI dan Golkar masih dalam usia relatif muda (pertama kali ikut tampil dalam Pemilihan Umum/sebagai Kontestan).

2)         Dalam Pemilu 1977, Kodim 0725/Sragen bersama sama Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, dengan hasil pemungutan suara dalam Pemilu 1977 kemenangan ditangan Golkar. (72 % ).

3)         Dalam Pemilu 1982, Kodim 0725/Sragen bersama-sama Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, dengan hasil pemungutan suara dalam Pemilu 1982 Golkar mengalami peningkatan dalam kemenangannya.

4)         Dalam Pemilu 1987 Kodim 0725/Sragen bersama-sama Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, namun hasil pemungutan suara dalam Pemilu 1987 secara bertahap Golkar mengalami peningkatan didalam kemenangannya.

5)         Dalam Pemilu 1992 Kodim 0725/Sragen bersama-sama dengan Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, namun pemungutan suara dalam Pemilu 1992 Golkar mengalami penurunan dengan kemenangan yang tipis.

6)         Dalam Pemilu 1997 Kodim 0725/Sragen bersama-sama dengan Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, pemungutan suara dalam Pemilu 1997 Golkar mengalami penurunan dengan kemenangan yang tipis.

7)         Dalam Pemilu 2004 Kodim 0725/Sragen bersama-sama dengan Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, pemungutan suara dalam Pemilu 2004 tingkat Kab. Sragen dimenangkan  PDI Perjuangan untuk tingkat Nasional dimenangkan  Golkar.

8)         Dalam Pilpres 2005 Kodim 0725/Sragen bersama-sama dengan Aparat Keamanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pilpres dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, pemungutan suara Pilpres tahun 2005 tingkat Kab. Sragen dimenangkan oleh Capres Megawati Sukarno Putri untuk tingkat Nasional dimenangkan oleh Capres DR. Susilo Bambang Yudhoyono.

9)         Dalam Pilkada Kab. Sragen 2006 Kodim 0725/Sragen bersama-sama dengan Aparat Kemanan yang lain melaksanakan pengamanan Wilayah, Pemilu dapat berjalan dengan tertib dan dalam keadaan aman, pemungutan suara  Pilkada Kab. Sragen dimenangkan oleh Calon Bupati H. Untung Wiyono.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kegiatan Kodim 0725/Sragen
Kemanunggalan TNI dengan rakyat

secawan madu

small rss seocips Music MP3
Ngademke Pikir Bro!!! biar ndak stres